Minggu, 29 Januari 2012

Sang Pemanah...

Sang Pemanah Sejati tidak akan pernah sudi membidik burung yang hinggap di dahan atau pun rusa yang sedang diam merumput. 
Ia selalu akan lebih dahulu mengejutkan sasaran bidik, memberinya kesempatan untuk bersiaga, kalau perlu menghindar, barulah anak panah dilepaskan....


itu adalah tulisan seorang teman, pagi ini...


dan ini menurut saya,
saya sedang memandang dari sisi yang lain, yang sedang berseberangan dengan sisi yang memandang Sang Pemanah dalam sosok heroik, elegan dan pemenang...

Pemanah adalah seorang pengecut. Dan pemanah hanya akan dapat buruan pincang, cacat atau mati. Kalaupun dia memanah untuk berburu bagi perutnya, bukankah dia harus terus memanah lagi, seumur hidupnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan???

Tidakkah menyenangkan jika buruan itu ditangkap tanpa dilukai, dipelihara, dan dibiarkan berkembang biak?

Pemanahku yang baik, gunakan panahmu dengan lebih bijak ya. Tak kan abadi kepuasan penaklukan yang kau kejar. Engkau akan merenta, setajam apapun anak panahmu, matamu akan merabun. Mungkin kau akan mulai memanahi pohon tua dan liukan perdu...siapa yang tahu?

Suatu saat nanti, tak kan ada rusa yang diam merumput untukmu. Karena bahkan dalam diamnya mereka pun, panahmu tak akan cukup jitu untuk sekedar menggoreskan luka. Bersiaplah untuk lemah, dalam kehampaan semesta.

Salam sayang ,
Yupi

1 komentar:

  1. hmmm....kalo merenta pake kacamata plus minus ato teleskop aja kali yaa...wakakakkkk
    my comment for this one, i think he need to move on different job, not as a butcher, maybe as a farmer ya?

    BalasHapus