Senin, 18 Februari 2013

Hayya alal Fallah!

Teman-teman, 5 kali sehari, masjid-masjid mengumandangkan kalimat ini. 5 kali dalam sehari kita diajak dan diingatkan untuk menuju kemenangan.
Kemenangan bisa berarti kesuksesan, dalam bidang apapun yang kita inginkan.
Saya, masih lebih sering menunda untuk sholat setelah mendengar adzan, dengan banyak alasan. Pekerjaan, kesibukan dan lain lain dan seterusnya dan begitulah. Memalukan yaaa...

Padahal janji Allah itu PASTI. Dan segala kesuksesan atau kegagalan, Allah yang punya, Allah yang tentukan. Mengabaikan ajakanNya, berarti menolak janjiNya. Setuju? Wong diajak sukses aja ga mau , kok, mengharap untuk sukses?

Yuk, bersama-sama, kalo kita memang MAU sukses, MAU menang, SAMBUT ajakanNya, sesegera mungkin (mumpung belum keduluan dipanggil olehNya, hehehe).

Salam,
Yupi.

Jumat, 15 Februari 2013

Mengurus Visa Jepang ( part 1)

Dalam rangka perjalanan pertama Kemal ke luar negeri, setelah paspor selesai (pembuatan paspor di positng disini), langkah selanjutnya adalah membuat visa.

Kemal akan berada di Jepang selama 2 bulan mendampingi eyangnya, dengan pengundang adalah kakak saya. Untuk pengurusan visa, bisa ke Japan Embassy di jakarta, atau ke KonJen Jepang yang ada di Surabaya dan Denpasar. Okeh.

Pada hari Rabu (13/02) kami berangkat dari Jember menuju Surabaya dengan kereta Logawa. Sampai di Gubeng jam 09.30. Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya ada di jl Sumatera no 93 Surabaya, deket banget sama stasiun Gubeng. Naik becak sebentar, kami sampai di depan Konjen Jepang. Tidak ada tulisan "Konsulat Jendral Jepang" , cuma ada tulisan dalam huruf jepang, kecil saja, yang artinya kurang lebih adalah jam operasional kantor.

Di depan pintu, lewat interkom kita berkomunikasi dengan satpam. Setelah tahu mau mengajuakn visa, baru deh gerbang besi (bukan gerbang besar, cuma seukuran pintu 1 meter) dibuka. Satpam meminta KTP kami, kemudian dikembalikan lagi, dan kami diberi kartu pengunjung. Ponsel dan kamera digital disimpankan oleh pak Satpam dalam box-box kecil bernomor. Setelah itu, kami dipersilahkan masuk ke pintu berikutnya.

Pintu yang buerat itu ternyata membawa kami masuk ke sebuah ruangan dengan scanner X Ray (seperti di bandara). Ruangan itu tak berjendela, hanya terang dari lampu. Setelah melewati scanner, kami dipersilahkan masuk ke salah satu dari 2 pintu yang ada di sisi ruangan.

Pintunya tebel dan berat banget loh. Saya pikir, kami akan masuk ke suatu ruangan lagi, ternyataaa....

Saya berada di luar. Ya, saya memasuki sebuah halaman dengan rumput yang hijau. Di seberang halaman, ada kantor lagi. Saya masuk, waktu itu ada 5 orang saja di situ. Saya mengambil nomor antrian dan mengantri. Ruangan kantor yang kecil dan nyaman. Suasananya sudah jepang banget. Bukan jepang klasik yang di film Oshin ya, tapi modern, nyaman, simpel. SOfa biru tua, koran dan majalh dengan huruf-huruf kanji, TV dengan drama jepang, dan di depan masing-masing loket (loketnya ada 3) tersedia botol dengan cairan alkohol untuk "mencuci" tangan. Jadi, sebelum kita berurusan dengan petugas, disarankan untuk mencuci tangan dulu. Terkesan deh ,dengan kepedulian mereka pada kebersihan dan kesehatan.

Tiba waktunya saya dipanggil. Saya maju dan menyerahkan berkas saya. Ternyata, form permohonan visa saya sudah jadul (padahal downoladnya baru saja) dan diminta mengganti dengan versi baru yang mereka punya. Saya pun mengisi form baru di meja yang disediakan. Oh iya, di pojok ruangan ada kursi dengan meja kecil yang di atasnya banyak majalah jepang yang sepertinya untuk anak-anak. Sayang Kemal tidak tertarik. Saking ngantuk dan nyamannya ruangan, dia tertidur di sofa, hahaha.

Saya mengambil nomor antrian lagi dan menunggu. Saat dipanggil lagi, saya menyerahkan form baru dan berkas kelengkapannya. Ditanya sedikit :"yang akan berangkat anak ibu?" (iya), "berangkatnya dengan ibunya ibu?" (iya), "ibu tidak ikut berangkat?" (tidak) "ibu sudah pernah ke jepang?" (belum)

Saya diminta menunggu kembali. Setelah sekitar 10 menit menunggu (tidak kerasa loh, soalnya asik dengerin orang-orang di sekitar yang ngobrol dengan bahasa jepang) saya pun dipanggil lagi. Diberi surat untuk pengambilan visa. Visa akan jadi dalam 4 hari kerja. Sebelum pengambilan bisa menelepon nomor yang tertera di surat tersebut.  Lhoh, kok sudah??? Hahaha, saya nggak menyangka akan secepat ini. Inget waktu bikin paspor yang menguras waktu...

Akhirnya, kami keluar lagi , melalui pintu keluar. Disambut pak satpam yang mengembalikan ponsel dan kamera kami. Yak, saudara-saudara, jam 11.30 urusan kami beressssss!!!! Alhamdulillah....

Teman-teman, kalo mau mengajukan permohonan visa di jepang, LENGKAPI dokumen yang diminta yaaa. Selengkap-lengkapnya. Karena kurang sedikit saja, akan ditolak oleh mereka.

Untuk visa kunjungan sementara dengan pengundang, syaratnya adalah :

  1. Paspor
  2. Form Permohonan, dilengkapi dengan pas foto (berwarna ato hitam putih), dengan background putih, berukuran 4,5cm x 4,5cm.
  3. Fotokopi KTP / fotokopi Surat Keterangan Domisili untuk anak di bawah umur.
  4. Fotokopi dokumen yang menunjukkan keberadaan pengundang di Jepang sana. ( KTP kakak saya, Certificate of Enrollment dari kampus, salinan paspor semua halaman lengkap).
  5. Bukti pemesanan tiket pesawat untuk pergi dan pulang, tanggal sesuai dengan di form .
  6. Jadwal Perjalanan. Jadwal hari demi hari selama berada di sana, kemana aja, ngapain aja. Dalam tabel yang kolomnya : Tanggal, hari, tempat.
  7. Fotokopi dokumen yang membuktikan hubungan keluarga antara pemohon dan pengundang. ( akte kelahiran kakak, surat nikah kakak, akte kelahiran Kemal, KK mama)
  8. Fotokopi dokumen yang menunjukkan hubungan dengan pemohon. (Dalam hal ini  kakak ipar saya juga turu mengundang, jadi menyertakan KK nya)
  9. Surat Undangan (dari kakak, ditujukan kepada Japan Embassy, intinya mengundang keluarganya)
  10. Surat Jaminan. Saya kurang tahu bacaannya apa, karena pake huruf kanji. Intinya ditandatangani kakak sebagai pengundang.
  11. Fotokopi buku tabungan pengundang selama 3 bulan terakhir (pastikan dananya "cukup" untuk membiayai pemohon selama berada di sana)
 Selain paspor, semua dokumen disusun urut, dan "dijepit" dengan si paspor. Oh iya, pastikan bahwa semua dokumen dicetak dan difotokopi di kertas ukuran A4 yah. 

Sampe di sini, kita belum membayar apapun ke konjen Jepang. Trus kapan dong? Tenang.... ada di part 2.
Met bikin visa juga yah, sampe ketemu di part 2!
 

Rabu, 13 Februari 2013

KENAPA ???

Ini note saya di fb, berjudul sama dengan judul postingan ini.  Untuk manteman tersayang...


Saya memilih bergabung dBC Network dengan banyak alasan dan pertimbangan yang panjang. Dari Mei 2009 udah diprospek sama mb Sharah Saleh Sugarda, tapi baru gabung sekarang. Bareng teman-teman baru.


Kok akun fesbuknya ada dua? Iya, saya menjaga perasaan teman-teman semua, yang sejak saya "wisuda" sebagai staff oriflame sudah mengajak saya bergabung.


Kenapa Oriflame?
Mengenal Oriflame sejak 10 tahun yang lalu,berkecimpung di dalamnya sebagai staff (CS-kasir-trainer-Beauty Specialist), saya tentu mengenal produknya. Berteman dengan banyak consultant oriflame, menyaksikan beberapa teman consultant mundur di tengah jalan karena berbagai alasan dan kepentingan. Dan mengikuti perjalanan beberapa dari mereka dari awal mendaftar sampai ke level-level hebat. SAYA TIDAK RAGU dengan bsinis ini.

Kenapa dBC Network?
dBC Network menawarkan sesuatu  yang lebih sesuai dengan saya. Itu saja.
Saya merasa oke dengan sistem bisnisnya. Logis dan Etis.
Cara kerja team dBC Network cocok dengan keseharian dan keadaan saya.
Dan saya, merasa adil karena tidak memilih satu teman saja (saya tidak mengenal mb Nadia Meutia dan mb Dini Shanti, karena saat mereka mendaftar sebagai consultant, hampir bersamaan dengan waktu saya resign dari manajemen oriflame).

Jika hal ini masih dirasa menyakiti, maafkan saya. Saya juga ingin sukses seperti teman-teman consultant, manager, director, gold dir, saphire dir dan seterusnya. Saya pilih jalan yang ini, doakan saya bisa seperti teman-teman semua, demi saya dan orang-orang tercinta saya.

Di hati, kita selalu teman.
Salam (mau pake oriflame clap ga? hehehe...)

Yupi.

Pembuatan Paspor di Imigrasi Jember

Bulan Januari 2013, saya membuat 2 paspor di Kantor Imigrasi Jember. Saya mengurus semuanya sendiri dari awal sampai akhir. Mudah kok. Gimana caranya? ini dia step-stepnya:

Pertama, datang ke kantor imigrasi.Di Jember, Kantor Imigrasi terletak di jl Panjaitan. lalu ke Koperrasi Imigrasi ( yang melayani fotokopi ) dan membeli formulir pengajuan paspor. Terdiri dari sebuah map khusus berwarna hijau, isinya formulir pengajuan paspor, dan formulir tambahan (pernyataan orang tua jika anak di bawah umur, dll). Map beserta isinya ituharganya Rp 35.000.

Kedua, isi formulir dan lengkapi berkas yang disyaratkan.Yaitu :
1. Fotokopi KTP ( Surat Keterangan Domisili dari kelurahan, jika pembuat paspor adalah anak di bawah umur)
2. Fotokopi KK
3. Fotokopi Akte Kelahiran atau Buku Nikah atau Ijazah , untuk bukti keaslian nama Hati-hati ya, nama beda satu huruf dengan KTP saja jadi masalah lhooo...

*Semua difotokopi di kertas ukuran A4 ya, jangan kertas yang lain, apalagiA3, kegedean! Haha*.

Ketiga, bawa ke Kantor Imigrasi lagi.
-Ke loket pendaftaran, disitu, berkas kita dicek kelengkapannya. Jika sudah lengkap dan sesuai persyaratan, kita akan diberi nomor antrian.
-Antri di Loket Pengajuan Paspor WNI Perorangan. Di sini berkas kita diuji lebih teliti. Kesamaan nama, tanggal lahir, dengan ijazah atau akte atau buku nikah. Kalau sudah sesuai, kita dipersilahkan makan, eh, pulang. Menunggu dihubungi (via sms) oleh kantor imigrasi untuk proses selanjutnya.

Keempat.
-3 hari setelahnya, kita akan mendapat sms dari kantor imigrasi, yang isinya pemanggilan wawancara dan foto.
-Datang ke loket pendaftaran, minta nomor antrian (bilang saja kita sudah dapat panggilan lagi)..
-Antri pembayaran. Setelah dipanggil, kita membayar biaya pembuatan paspor sebesar Rp 255.000, mendapatkan tanda terima, lalu antri lagi.
-Pemanggilan berikutnya, untuk proses foto. Pada saat foto, sidik jari kita juga di-scan. Mirip-mirip pembuatan e-ktp. Setelah selesai, antri lagi untuk wawancara..
-Pemanggilan berikutnya, untuk wawancanda. Di sini ditanya-tanya tentang tujuan pembuatan paspor, mau kemana, sama siapa, mau ngapain. Setelah selesai, mereka akan meminta kita tanda tangan. (Kecuali anak saya, di bawah umur, jadi yang tanda tangan mamanya).
-Selesai, pulang, tunggu kabar selanjutnya.

Kelima.
-5 hari kerja setelah foto, akan ada sms lagi dari imigrasi, pemberitahuan bahwa paspor sudah bisa diambil.
-Ke kantor imigrasi. Tidak bisa diwakilkan, walapun untuk anak di bawah umur. Ke loket pendaftaran, menunjukkan sms.
-Petugas akan meminta KTP kita, untuk ditinggal di sana, dan meminjamkan paspor kepada kita. Kok dipinjamkan? Iya, untuk kita fotokopi halaman depan dan paling belakang sebanyak 1 salinan.
-Fotokopian paspor diberikan ke kantor imigrasi, KTP dikembalikan lagi kepada kita, paspor pun sudah jadi milik kita. HOORAAAAAY!

Mengurus sendiri, sebenarnya tidak mahal kan? Dengan biaya fotokopi dan bensin, tetap saja jauh lebih murah dibandingkan dengan yang diurus biro jasa, yang kisarannya Rp 750.000 per orang (itu belum termasuk biaya tambahan jika ada ketidaksamaan nama dan tanggal lahir pada KTP dan akte/surat nikah/ijazah).

Di kantor imigrasi Jember, ditulis besar-besar DILARANG MEMBUAT PASPOR MELALUI CALO. Hehe, calo memang tidak ada, tapi "biro jasa" bertebaran dimana-mana. Membawa bertumpuk-tumpuk berkas, meletakkan tumpukan berkas mereka di loket, sementara kita menunggu dipanggil satu persatu. Menggerombol di depan loket pembayaran. Ikut-ikutan panggil antrian. Mondar-mandir mengatur "klien" yang antri foto dan wawancara. Itu adalah pekerjaan, mereka mencari nafkah untuk keluarganya. Hanya saja yang mengganggu saya, mereka mendapat jauh lebih banyak kemudahan dari kantor imigrasi, dibanding dengan yang mengurus sendiri. Kalau kantor imigrasi bisa lebih adil, tentu lebih menyenangkan yaaa....

Lah kok malah curhat? Hehehe...

Sekian edisi paspor kali ini. Besok insyaAllah saya posting edisi Visa.
Salam!

Minggu, 29 Januari 2012

Sang Pemanah...

Sang Pemanah Sejati tidak akan pernah sudi membidik burung yang hinggap di dahan atau pun rusa yang sedang diam merumput. 
Ia selalu akan lebih dahulu mengejutkan sasaran bidik, memberinya kesempatan untuk bersiaga, kalau perlu menghindar, barulah anak panah dilepaskan....


itu adalah tulisan seorang teman, pagi ini...


dan ini menurut saya,
saya sedang memandang dari sisi yang lain, yang sedang berseberangan dengan sisi yang memandang Sang Pemanah dalam sosok heroik, elegan dan pemenang...

Pemanah adalah seorang pengecut. Dan pemanah hanya akan dapat buruan pincang, cacat atau mati. Kalaupun dia memanah untuk berburu bagi perutnya, bukankah dia harus terus memanah lagi, seumur hidupnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan???

Tidakkah menyenangkan jika buruan itu ditangkap tanpa dilukai, dipelihara, dan dibiarkan berkembang biak?

Pemanahku yang baik, gunakan panahmu dengan lebih bijak ya. Tak kan abadi kepuasan penaklukan yang kau kejar. Engkau akan merenta, setajam apapun anak panahmu, matamu akan merabun. Mungkin kau akan mulai memanahi pohon tua dan liukan perdu...siapa yang tahu?

Suatu saat nanti, tak kan ada rusa yang diam merumput untukmu. Karena bahkan dalam diamnya mereka pun, panahmu tak akan cukup jitu untuk sekedar menggoreskan luka. Bersiaplah untuk lemah, dalam kehampaan semesta.

Salam sayang ,
Yupi

Kamis, 26 Januari 2012

rindu hujan 1

Rindu sekali padamu hujan...
Rindu, duduk sendiri di sudut halaman
Memandang lutut tertekuk – dan kaki telanjang – dan genangan air bercorak bulat bulat
Rindu,  dinginmu
Dan bibir membiru – dan jari keriput – dan gigi berkeletak...
Berharap desau semakin kencang, rinai semakin ganas
Dan tak kan ada yang mendengar lolongan...
Tak kan ada yang menyadari air mata...


Sabtu, 14 Januari 2012

BERPINDAH KE LAIN KOPI???

Tadi pagi menjelang siang, saya tiba-tiba ingin membuat kopi ambon.
Menurut saya, akan jadi kemanjaan yang menyenangkan bagi lidah saya, di hari libur seperti ini.

Saya berbagi dengan seseorang tentang niat ini. “aku mau bikin kopi ambon”
“yang kayak apa?”
“itu kopi yang diseduh dengan air dingin, diaduk sambil dididihkan, ditambah kayu manis dan pala, trus dicampur susu kental manis.... jadinya pekat, manis dan berbumbu....”
“berbumbu?”
"Iya, beraroma rempah-rempah, spicy aroma kayu manis dan pala....”
“ga enak.”
Saya tertawa.... “untuk selingan, bolehlaaaaah....”
Bertampang keras kepala dia berujar singkat : “kopi semendo, palembang”
“ya terserah...” Saya bilang. “Tapi membuka diri sama yang baru itu, memperkaya lho....”
....
Memang begitu bukan?

Saya adalah penyuka kopi hitam. Hampir setiap pagi, ritual pagi saya adalah ngopi hitam (plus gula) dalam mug kesayangan.  Enak. Tapi kadang cuma jadi seperti bagian dari ritual pagi saja. Kopi hitam jadi sesuatu yang tidak istimewa, namun tetap dihadirkan agar hari saya lengkap.

Sekali waktu, saya berpindah ke kopi hitam instan. Lebih ringan rasanya. Ini akan bertahan beberapa hari. Atau saya minum kopi dengan krimer (kalo yang ini paling banter berjalan 3 hari berturut-turut). Saya tidak bilang bahwa kopi hitam instan dan kopi krimer itu tidak enak. Namun saya tak bisa berlama-lama menghadirkan mereka dalam pagi saya. Beberapa hari kemudian, saya akan kembali pada kopi tubruk saya, yang hitam, kental dan manis.

Rasanya?
Tentu seperti kopi hitam saya biasanya TAPI DALAM LEVEL KENIKMATAN BEBERAPA TINGKAT DI ATAS BIASANYA !!!

Hahaha....entah karena kerinduan syaraf-syaraf saya akan sentuhan caffein kopi tubruk, atau kangen akut akan belaian rasa pahit manis yang nyegraknya asik itu,sehingga lidah saya otomatis membuat perbandingan dengan kopi kemaren yang “enteng” dan ecek-ecek itu, lidah saya jadi punya data lain untuk dikomparasikan dan menghasilkan kesimpulan untuk KEMBALI KE SELERA ASAL.
Kalo tidak diselingi, atau setidaknya, mencoba kopi lain, mungkin kopi biasa jadi akan terasa benar-benar biasa, tak ada pembanding, tak nampak istimewanya.
Atau, jika ternyata kita cocok sama kopi yang baru, bolehlah kita berpindah ke lain kopi, hehehehe....

LALU ....BAGAIMANA JIKA ITU ADALAH HATI? PERASAAN?

Bisa saja sama. Yang beda cuma di resiko. Kalo kopi, tidak cocok, bisa kembali pada yang lama. Kalau hati....mmm....tidak semudah itu kembali pada hati yang ditinggalkan saat kita sedang ingin “mencoba” hati yang lain bukan?

Sejujurnya saya setuju jika hati dianalogikan dengan kopi. Ingin rasanya saya sampaikan pada kekasih : carilah di luar sana, kamu tak akan temukan hati sebaik hatiku untukmu... Hehehehe

Bagaimana tidak, saya ini mencintainya. Tapi dia seolah menganggap enteng saya, tak pernah sekalipun saya diakui di dunianya. Entah kenapa.... Yang paling parah, dia masih mengungkapkan kerinduan kepada mantan, entah bualan entah nyata, kepada publik. Rasanya jangan ditanya....

Loooh, kok jadi curhat??? Ya gapapa....wong ini blog saya, hahaha....

Kenapa saya bertahan? Hhmmmm...tidak bisa dijabarkan secara pasti alasannya. Sebuah tujuan baik menjadi landasan saya, selain rasa sayang yang belum pernah luntur ( mungkin kualitasnya original, bukan kw super, dan kw kw lainnya).

Dan akankah saya menyampaikan ini padanya? Tidakkah saya takut ia benar-benar akan menemukan yang lebih baik? Dan meninggalkan saya?

Akan tiba saatnya baginya untuk mendengar itu dari saya. Saat saya sudah tak tahan dengan egoismenya. Dengan ketidakberaniannya mengatasi kegelisahannya. Dengan tidak dihargainya saya secara layak.

Takutkah saya?Ini demi saya dan harga diri juga kok.  Mari kita sebut itu : RESIKO. Resiko akan ditanggung saya, dan juga DIA. Saya yang mungkin tak akan bersamanya lagi, dan dia yang TIDAK AKAN MUNGKIN bisa bersama saya lagi kalau berani menempuh pencarian hati lagi, wakakakakak !!! (ini baru egoisme saya ^^ )

Jadi kekasihku, mari kita bersiap dan berbenah.  Carilah pembanding dimanapun, dan menyesallah di kemudian hari...Haduh, seram betul, sungguh mengancam...
Ralat...
Mari berbenah, semoga tak perlu aku dan kau, mencicipi kopi yang lain, hanya untuk tersadar bahwa kita adalah yang terbaik. Belajarlah menghargaiku, cinta...


Maaf ya, curhatnya kepanjangan. Jadi kembali ke teman-teman, apa yang bisa diambil dari postingan kali ini? Resep kopi? Oke... Analogi kopi? Silahkan.... Apa saja deh, semoga bisa menjadi pengisi hari.

Yaaaaah.... kopi ambon saya sudah habis diseruput, selama penulisan postingan ini.  Hhmmm kopi yang enak, pahit,manis,  gurih, spicy namun soft... Dan juga membuahkan kontemplasi... ! Coffee of the Week iniiiii !!! Tepuk tangan sodara-sodara... (prok prok prok....)